Penurunan nilai rupiah adalah kenyataan buruk yang sekarang kita hadapi. Terhadap fenomena ekonomi ini, banyak opini dan analisis berseliweran, dari yang mengkritik habis-habisan kinerja pemerintah di bidang ekonomi hingga yang berusaha memberikan masukan kepada tim ekonomi Jokowi.
Di ranah internet, para netizen yang masih memiliki kepedulian terhadap perekonomian bangsa turut melakukan upaya untuk menguatkan rupiah. Nilai mata uang Negara Garuda yang terus menurun membuat sebagian masyarakat mengampanyekan sebuah gerakan melalui tagar #KuatkanRupiah.
Gerakan ini menjadi viral antarmedia sosial, mulai dari twitter, Instagram, hingga Path. Apa sajakah poin-poinnya? Simak 5 Cara Menguatkan Rupiah berikut ini!
1. Berani Memegang Rupiah
Meski berbagai media kerap memberitakan penurunan nilai rupiah, kita harus yakin nilai rupiah tidak akan terus menerus jatuh. Hal ini disebabkan karena kenaikan dan penurunan perekonomian berlaku seperti sebuah siklus. Cepat atau lambat, nilai mata uang ini akan kembali menguat.
Bila meyakini hal ini, masyarakat akan memiliki keberanian untuk memegang rupiah. Tentu makna memegang rupiah di sini tidak secara literal memegang uang tersebut. Makna memegang rupiah di sini ialah tidak terbawa arus untuk ikut-ikutan menukarkan rupiah ke dolar.
2. Beli Produk Lokal
Cara yang juga efektif dalam menguatkan rupiah adalah dengan mengurangi konsumsi produk impor. Pengurangan konsumsi produk impor memiliki andil dalam menguatkan rupiah karena mengurangi ketergantungan kita terhadap dolar atau mata uang asing lainnya.
Mengurangi ketergantungan terhadap produk impor dapat dilakukan dengan memperbanyak konsumsi produk dalam negeri. Perbedaan kualitas tentu akan menjadi pertimbangan, namun bila hal ini dilakukan secara bersamaan, selain memberi rizki kepada para pelaku usaha dalam negeri, kamu juga berperan penting dalam menjaga bahkan menguatkan nilai rupiah.
3. Perbanyak Transaksi dengan Rupiah
Melalui informasi gambar yang menjadi viral di media sosial, diberitahukan bahwa ada beberapa sektor yang sebenarnya bisa ‘dipaksa’ untuk penggunaan rupiah. Salah satu sektor yang dimaksud ialah sektor pariwisata.
Seperti diketahui, sektor pariwisata banyak menggunakan mata uang asing dalam transaksinya, terutama pada tempat-tempat yang telah tersohor bagi para wisatawan mancanegara.
Dengan membuat regulasi yang mengharuskan penggunaan mata uang rupiah pada tempat-tempat tersebut, misalnya, turis lokal dan—terutama—mancanegara akan menggunakan rupiah dalam setiap transaksinya. Dengan sendirinya, mereka akan membuat ‘wajah’ rupiah kembali sumringah.
4. Jangan Ambil Keuntungan
Keperkasaan dolar membuat sebagian besar spekulan berupaya menukarkan rupiahnya menjadi dolar. Harapannya, tentu agar mereka memperoleh keuntungan. Akibatnya, rupiah terus dikeroyok hingga semakin bonyok.
Memang tidak mudah untuk mengikuti poin ini. Dibutuhkan nasionalisme yang kuat untuk tidak tergoda mengambil keuntungan dari kejatuhan rupiah. Namun, bukankah untuk meraih keuntungan, ada begitu banyak strategi investasi lain yang dapat digunakan?
5. Untuk yang Berlebih, Sisihkan Sebagian
Beberapa orang berkemampuan finansial lebih dari cukup biasanya memiliki simpanan dolar sebagai bagian dari portofolio keuangannya. Simpanan ini dilakukan sebagai bagian dari diversifikasi investasi mereka. Salahkah? Tentu tidak.
Meski demikian, peristiwa ini bisa menjadi momentum bagi mereka untuk berperan menyelamatkan perekonomian bangsa dengan cara sederhana. Bila memiliki ‘cadangan dolar’ dalam portofolio keuanganmu, kamu dapat menukarkannya ke dalam rupiah.
Setelah itu, kamu bisa menginvestasikannya dalam instrumen-instrumen keuangan yang saat ini relatif tangguh menghadapi krisis, misalnya reksadana. Namun, tetap cermati produk reksadana yang hendak kamu tuju, ya.
Penurunan mata uang dalam negeri memang bukan berita yang membuat kita berseri-seri. Namun, langkah-langkah kecil yang kita lakukan di atas setidaknya punya andil dalam membuat nilai mata uang tercinta tidak semakin membuat ngeri. Karena itu, saatnya kita berperan untuk membuat rupiah kembali menari.